14 September 2018

Mars Notre Dame

Menyanyi adalah salah satu hobi saya semenjak masih kecil. Waktu masih SD di desa saya, lagu-lagu Jawa adalah lagu yang banyak diajarkan di sekolah, selain beberapa lagu nasional dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Menyanyi bersama teman-teman maupun sendiri bagi saya pribadi adalah ekspresi kegembiraan hati, seolah tidak ada beban atau masalah yang dihadapi. Keinginan saya menjadi seorang Katolikpun awalnya adalah karena ingin menyanyikan lagu Gereja. Pada waktu itu sekitar tahun 1973, saya melihat kakak saya yang beragama Katolik bersama umat
Ketaatan diajarkan sejak dini, bukan saat anak-anak menjadi dewasa. Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame Di dalam buku Along the Virtuous Way, Ezo & Ezzo mencontohkan cerita berikut ini yang saya ubah dalam konteks Indonesia. Kevin, umur empat tahun, bangun tidur, ibunya sudah menyiapkan air hangat dan handuk. Ibu bertanya, “Mau mandi?” Kevin bilang, “Mau sarapan dulu, Mah.” Lalu ibunya mengambilkan nasi dan telor. Kevin berkata, “Aku mau tempe saja.” Ibu mengembalikan telur dan mengganti dengan tempe. Lalu, Ibu menuang susu,
Bolehkah kita menjadi orang tua yang otoriter. Atau, lebih baik kita menjadi orang tua yang demokratis? Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame Ezo & Ezzo dalam bukunya Along the Virtuous Way menggambarkan otoritas itu seperti corong. Kita tahu corong di ujungnya sempit, lalu semakin lama mengembang di bagian atasnya. Corong itu gambaran dari otoritas, di masa anak-anak corong itu sempit karena otoritas orang tua itu mutlak. Di masa remaja, otoritas itu mulai dikurangi. Di usia dewasa, otoritas itu mulai hilang diganti
Ada orang tua yang selalu memberikan hukuman. Salah sedikit dihukum, salah banyak makin dihukum. Akibatnya, anak takut dan minder. Namun, ada yang tidak berbuat apa-apa saat anak berbuat kenakalan. Akibatnya anak bersikap kurang ajar. Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame Apa sebetulnya hukuman dan apa itu konsekuensi? Apakah keduanya sama? Untuk memahaminya saya memberikan cerita berikut. Seorang ayah membelikan es krim untuk anaknya. Anaknya itu menumpahkan es krim di lantai. Sang ayah meminta si anak membersihkan es krim di lantai itu
Hadiah diberikan untuk memperkuat sikap baik, bukan untuk memanjakan anak. Sayangnya, seringkali anak menjadi manja dan berperilaku buruk setelah mendapat hadiah. Ilustrasi: Pixabay (CC0 License) Kadangkala ada perasaan yang tidak terbendung dalam diri kita untuk memberikan hadiah yang terbaik untuk anak kita. Kadang kita tanpa kita memikirkan apakah hadiah yang kita berikan itu akan membuat anak kita bersikap lebih baik, atau justru bersikap buruk. Dalam memberikan hadiah, maka kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini. Pertama, apakah saatnya tepat? Saat
Tujuan dari hukuman adalah untuk memperbaiki sikap anak, tetapi sayangnya hukuman justru seringkali merusak relasi antara orangtua dengan anak. Bagaimana agar hukuman yang kita berikan memperbaiki sikap anak, tetapi hubungan anak-orang tua tetap harmonis? Ilustrasi: Pexels (CC0 License) Banyak orang tua memberikan hukuman tetapi kemudian tidak berusaha untuk mengembalikan relasi yang baik antara anak dan orangtua. Akibatnya, hukuman yang diberikan justru membangkitkan amarah dalam hati anak. Sampai si anak tumbuh dewasa, ia masih menyimpan amarah itu di dalam hatinya. Bapak
Pada 20 April 2018, siswa –siswi SD Notre Dame merayakan Hari Kartini dengan tema Kita Bhinneka Kita Indonesia. Pagi itu suasana sekolah berbeda dengan hari – hari biasanya. Siswa – siswi kelas 1- 5 mengenakan berbagai pakaian adat di Indonesia. Anak anak tampak ceria, cantik –cantik dan tampan. Hari Kartini kita rayakan dengan tujuan meningkatkan semangat juang tokoh emansipasi wanita R.A Kartini di Notre Dame. Kita memakai pakaian adat dari berbagai daerah ini memberikan makna bahwa perjuangan Kartini untuk kaum
“Aku Berani Aku Berprestasi” adalah kegiatan yang diadakan oleh Sekolah KB-TK-SD Notre Dame Grand Wisata pada tanggal 5 Mei 2018 yang lalu. Acara ini dihadiri oleh seluruh orangtua murid KB-TK-SD Notre Dame Grand Wisata. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka merayakan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional. Kegiatan “Aku Berani Aku Berprestasi” diadakan dengan tujuan sebagai bentuk tanggapan terhadap ajakan gereja untuk menumbuhkan semangat ke-Bhinneka-an dalam diri anak didik kami di sekolah, untuk mengembangkan minat serta bakat yang dimiliki siswa-siswi melalui
Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame Meskipun Paskah sudah lewat, Jumat , 6 April lalu TK Notre Dame mengadakan perlombaan di lingkungan sekolah. Anak anak berkumpul di selasar untuk senam dan berdoa bersama, sebelum memulai perayaan Paskah terdapat bermacam-macam perlombaan dalam perayaan Paskah. Untuk TK B ada lomba paduan suara dengan menyanyikan lagu APP 2018 “Kita Bhinneka Kita Indonesia”, sedangkan untuk anak-anak KBB dan TK A lomba mencari telur secara bergantian. Sebelum memulai lomba diawali dengan menyanyi, agar semua menjadi gembira
Ilustrasi: Pixabay Gadget, tidaklah asing bagi anak-anak masa kini. Bahkan banyak anak yang sudah kecanduan untuk memakai gadget. Gadget saat ini tidak bisa terpisahkan dari aktiftas sehari–hari. Bagaimana tidak? Kemana pun pergi gadget selalu dibawa, apa pun yang dilihat, didengar bisa diakses melalui gadget. Sehingga tak heran jika anak-anak balita pun sudah bisa menggunakannya. Seberapa sering orangtua mengontrol anak dalam menggunakan gadget. Memang tidak salah mengenalkan gadget kepada anak, tetapi pertanyaannya, sejauh manakah gadget digunakan oleh seorang anak ? Nah,