Pada hari Minggu, 6 Oktober 2019, saya dan teman-teman berkumpul di sekolah untuk berangkat Live In bersama. Kami berkumpul sekitar pukul 15.00 dan berangkat pukul 16.00 WIB. Perjalanan cukup jauh sehingga kami bermalam di bis dan akhirnya sampai di Gubug Selo Merapi, Magelang, Jawa Tengah sekitar pukul 6 pagi. Setelah sampai disana, kami dikumpulkan lalu tim acara memberikan briefing serta membagi seluruh siswa/i menjadi 8 kelompok yang bertempat di 4 desa. Keempat desa tersebut adalah Desa Sewukan, Desa Dadapan, Desa Semen, dan Desa Jombong. Desa yang saya tempati adalah Desa Sewukan. Kami diantar ke desa kami masing-masing menggunakan mobil pick up dan saat tiba disana, kami diberi tahu nama orang tua angkat kami dan mencari rumah mereka. Di rumah orang tua angkat saya, terdapat 3 orang, yaitu Mbah Sunarti, Pak Harko, dan Tama. Kebetulan ayah angkat saya merupakan salah satu anggota tim dari acara Live In ini. Saya sangat menyukai suasana di desa tersebut karena selain udara yang segar dan perumahan yang tenang, orang-orang yang tinggal disana juga sangat ramah.

Live In SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Di hari pertama, tidak banyak aktivitas yang dapat saya dan teman serumah saya lakukan. Kami sampai di rumah orang tua angkat kami sekitar pukul 8 pagi, lalu kami berbincang bersama mbah. Mbah sudah pensiun, tetapi beliau memiliki ladang jagung yang belum siap untuk dipanen. Setelah mengobrol sebentar, kami bersih-bersih lalu makan siang. Judul kegiatan pada siang hari itu adalah aktivitas bersama keluarga masing-masing, tetapi karena mbah kami tidak pergi ke ladang jagungnya pada hari itu alhasil kami menganggur, begitu juga dengan

Live In SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Sebagian teman-teman yang tinggal satu desa dengan saya. Akhirnya saya dengan teman serumah saya memutuskan untuk berkunjung ke rumah teman kami. Kebetulan ibu angkat mereka akan pergi ke kebunnya. Jarak dari kebun sampai rumah kami dapat dibilang cukup jauh untuk berjalan kaki. Tetapi dengan menikmati pemandangan dan udara yang segar sambil menyapa banyak orang, perjalanan yang cukup panjang tersebut menjadi tidak terasa. Setelah sampai di kebun, kami membantu membasmi gulma yang tumbuh disekitar tanaman. Gulma ini katanya dapat menghambat pertumbuhan tanaman tersebut. Setelah ikut berkebun, kami pulang dan kembali menganggur, akhirnya kami berempat memutuskan untuk mengunjungi rumah angkat teman kami satu per satu. Setelah kami berkumpul bersama akhirnya kami pulang ke rumah kami masing-masing. Saya dan teman serumah saya menghabiskan sore hari kami dengan bermain bersama adik angkat kami, Tama, yang duduk di bangku SD kelas 2. Kami menonton TV bersama di ruang tamu dan berbincang hingga malam hari tiba.

Live In SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Pada hari kedua, kami bangun pukul 6 pagi dan ikut mbah pergi ke kebun untuk memetik cabai dan buncis. Kami pergi berempat bersama teman kami. Udara pagi hari disana sangat segar sehingga kami pun tidak mengantuk selama perjalanan ke kebun. Sesampai di kebun, kami pun mulai memetiknya satu per satu. Saya merasa sangat senang saat berkebun, tetapi ada hal yang tidak saya sukai, yaitu banyaknya semut merah, ulat, jaring laba-laba, dan serangga lainnya. Setelah selesai berkebun, kami pulang ke rumah masing-masing dan membersihkan diri lalu makan siang. Sekitar jam 11 siang kami berkumpul bersama untuk membuat masakan tradisional dari bahan utama singkong, yaitu Getuk. Kami belajar mulai dari cara mengupas, merebus, menghaluskan, sampai menggorengnya secara berganti-gantian. Setelah masakan tradisional jadi kami menyantap masakan tersebut bersama.

Live In SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Pada pukul 2 siang kami dikumpulkan bersama untuk latihan performance yang akan ditampilkan pada hari ketiga. Kelompok desa kami dibagi menjadi dua, kelompok menari dan kelompok memainkan alat musik dan saya dipilih untuk menari. Kami berlatih menari di depan rumah saya, karena halaman rumah orang tua angkat saya cukup luas untuk dijadikan tempat latihan. Kami latihan tanpa mengenakan sendal kami untuk membiasakan diri sebelum tampil. Selama latihan, saya dan teman-teman saya beberapa kali mengeluh karena seringkali tidak sengaja menginjak batu kerikil dan merasakan sakit pada telapak kaki kami. Kami berlatih hingga sore hari dan setelah itu kami pulang ke rumah kami masing-masing untuk mandi dan makan malam. Setelah makan, kami harus kumpul bersama kembali untuk berdoa Rosario dengan satu desa. Setelah doa bersama, kami saling bercerita tentang perasaan kami selama berada di desa ini. Lalu kami pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Live In SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Pada hari ketiga, kami berkumpul pukul 7 pagi untuk pergi menanam padi bersama. Setelah sampai di sawah, kami bertemu dengan teman-teman kami yang tinggal di desa lain. Perasaan saya selama menanam padi adalah senang. Senang karena mencoba hal yang baru, namun bercampur aduk dengan perasaan cemas karena memasukan kaki ke lumpur yang dalam. Setelah kami menanam padi, kami lanjut tracking ke sungai. Selama tracking itu banyak sekali rintangan yang harus kami lewati. Mulai dari jalan bertanah yang becek dan curam serta licin. Tetapi akhirnya kami dapat sampai ke sungai. Air di sungai sangat deras dan terdapat banyak batuan di bawahnya. Tak lama kemudian kami diberikan konsumsi dan selesai bermain di sungai. Saya merasa agak kecewa karena waktu untuk bermain di sungai sangat sedikit sementara kami sudah bersusah payah melewati jalur yang rumit untuk mencapai sungai tersebut. Kami pulang ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri, makan siang, lalu berkumpul kembali untuk latihan. Setelah latihan sampai sore hari, kami kembali pergi ke Gubug Selo Merapi untuk misa bersama. Setelah misa kami menampilkan tarian yang sudah dipersiapakan sejak kemarin dengan pakaian adat lengkap beserta aksesorisnya. Jujur saya agak khawatir karena persiapan untuk menari hanya dilakukan dalam 2 hari. Setelah penampilan dari murid, kelompok tari dari desa juga menampilkan tarian khas mereka. Saya terkagum dengan rias wajah serta properti yang digunakan saat menari. Menurut saya, mereka sangat menghayati tarian tersebut dan penampilannya sangat baik. Malam itu, setelah kembali ke rumah, kami merapikan barang-barang karena besok pagi akan berangkat pulang ke Jakarta.

Live In SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Hari keempat, kami bangun pukul 6 pagi, lalu mandi dan sarapan. Kami juga berfoto dan pamit dengan keluarga angkat. Saat berpamitan, saya merasa agak sedih karena keluarga angkat saya, terutama mbah, sangat baik dan perhatian kepada saya. Untung saja kami hanya menginap selama 3 hari, kalau lebih, mungkin akan sulit bagi saya untuk berpisah dengan keluarga angkat. Mbah juga berpesan kepada saya agar kelak menjadi orang yang sukses dan mengingatkan untuk rajin sekolah. Setelah mbah mengungkapkan beberapa pesan yang membuat saya tersentuh, kami berpamitan sekali lagi sebelum berkumpul di Gubug Selo Merapi. Di sana kami foto bersama lalu naik ke bis. Kami pun menuju Sendang Ayu untuk makan siang bersama, lalu ke Malioboro.

( Oleh: Keizia Ham – Siswi SMA Notre Dame 2019 )

Bagikan Halaman Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •