Kesunyian menyelimuti kamar, serta hawa dingin membuatku ingin tidur lebih lama. Namun sayangnya, mama tak lama masuk ke kamar dan membuka pintu lebar-lebar sambil mengucap beberapa kata untuk membuatku bangun. Kesunyian dan hawa dinginku hancur, namun badan ini masih enggan untuk bangun karena rasa mengantuk yang sangat berat. Namun, mau tak mau aku harus bangun. Hari ini (9/10/2019), hari di mana aku harus pergi gladi rohani. Kegiatan yang wajib dilakukan oleh kelas X. Aku beranjak dari tempat tidur, dan kemudian mempersiapkan diri. Tak lama, jemputanku datang dan mengantarku pergi ke sekolah.

Gladi Rohani SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Setelah sampai ke sekolah, aku pun melangkahkan kaki dan menggeret koperku menuju area SMA. Disana ternyata sudah banyak teman-temanku. Kemudian kami menuju bus setelah di bagi oleh Pak Priyo dan kami pun berangkat menuju tempat tujuan kami, Wisma Sang Timur, Cikanyere. Setelah perjalanan yang amat panjang, kami pun sampai pada pukul dua, dan diarahkan menuju aula.

Aulanya besar, kira-kira dua kali ruangan kelas dengan kursi kursi dibentuk seperti huruf U, mengelilingi tengah-tengah ruangan. Di aula itu, kakak-kakak yang akan membina kami selama tiga hari pemperkenalkan diri. Ada empat orang, dua perempuan, dan dua laki laki. Seorang Pria paruh baya memperkenalkan dirinya sebagai kak Bambang,,sesi perkenalan itu kemudian disusul oleh kak Adi, Kak Yudith, dan kak Dhita.

 Pak Obed memanfaatkan kesempatan itu untuk membagikan kamar, dan memberi tahu letak kamar kami masing masing. Seelain itu, Kami diminta menuliskan nama pada nametag dan amplop, dan teman kami boleh memasukan pesan kedalam amplop. Setelah selesai, kami diberi waktu istirahat yang lama untuk mandi, dan berkeliling wisma sampai jam empat.

Istirahat pun usai, kami pun dikumpulkan kembali untuk membentuk kelompok. Aku ditempatkan bersama teman sekelasku, Angela dan Steve. Kemudian ada beberapa anak yang tidak terlalu dekat denganku, bahkan aku hampir tidak pernah berinteraksi dengan mereka. Tugas pertama kali sebagai kelompok adalah membuat yell-yell. Awalnya kami sangat canggung, dan agak kaku dalam mengobrol dan bercanda. Namun, karena kami adalah sebuah kelompok, diskusi & kekompakan sangat diperlukan sehingga kami mau tidak mau harus berinteraksi satu dengan lainnya.

Gladi Rohani SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Kami pun membuat yel-yel sekreatif mungkin dan melenggang menuju ruang makan, untuk makan malam. Kelompok kami dipilih untuk melayani makan pada hari itu, dan bersih-bersih ruangan. Kami juga diminta untuk makan semeja dengan kelompok kami dan jujur, suasana dan atmosferenya sangatlah kaku. Selesai makan, kami pun membereskan meja dan kursi, serta piring piring dan gelas yang kami masukkan ke tempatnya. Kemudian, kami kembali ke aula.

Sesi pertama dimulai. Di sesi pertama ini, kami diminta untuk memperkenalkan diri kami sendiri dalam secarik kertas, dan kami pun diminta memperkenalkan diri kami kepada teman teman sekelompok kami. Hari itu, saya makin mengenal orang orang disekelilingku dan lebih mengenal diri sendiri.

***

Keesokan harinya, kami bangun, mandi dan sarapan. Selesai sarapan, kami kembali ke aula, dan melaksanakan sesi. Sesi kali ini tentang menghargai dan menerima diri sendiri. Sesi ini tidak dipimpin oleh kakak kakak yang memperkenalkan diri pada hari pertama, tapi oleh seorang pria yang bernama Kak Paul. Seusai sesi, kami diberitahu bahwa kami akan melakukan probasi, kegiatan membantu warga disekitar kita. Kita diminta wawancara tentang keseharian mereka serta melaksanakan aksi sosial yaitu membantu mereka bekerja. Kak Yudith juga menyampaikan bahwa kegiatan probasi ini dari jam sepuluh pagi sampai jam satu, dan akan dilanjutkan outbond sampai jam enam. Aku tertegun, kita sama sekali tidak duduk di ruangan seperti kemarin. Hari ini lebih banyak aktivitas jalan-jalan dan keluar. Aku lebih suka ini, daripada duduk diam di dalam aula.

Untuk probasi, kami diminta berjalan bersama kelompok, dan setiap orang diminta untuk mewawancarai dua orang. Kelompok kami berjumlah sebelas orang, yang artinya kami harus menggumpulkan dua puluh orang untuk diwawancarai. Selain wawancara, kami juga harus membantu warga sekitar (Aksi sosial).

Gladi Rohani SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Kami pun keluar, dan berjalan turun untuk mencari warga sekitar yang dapat kami wawancarai. Aku dan Angela sedikit skeptis. Masalahnya, teman-teman lain berjalan menuju kandang sapi yang aku yakin jumlah sapinya lebih banyak daripada jumlah orang yang kami bisa wawancarai. Aku dan Angela pun memberi ketua kelompok kami, bahwa kami akan berpencar dari mereka. Ia pun meng-iyakan, berjanji akan bertemu di wisma.

Kami pun kembali naik ke atas, berjalan ke arah dari mana kami datang, sampai kami menemukan sebuah lapangan dengan banyak anak-anak di sana, dan di sana tampak sebuah warung. Aku menarik Angela dan mengajaknya untuk mewawancarai penjual di warung itu. Angela tampak ragu, tapi aku tidak. Entah kenapa, aku sangat yakin terhadap warung ini. Dan menurutku lumayan juga untuk tugas aksi sosial.

“Ibu, bolehkah aku meminta waktunya sebentar?” tanyaku, kepada ibu yang sedang melayani pelanggan-pelanggannya dari dalam warung. Ibu itu sedikit tertegun dan tampak sedikit ragu. “Ya, silahkan.” Jawabnya, akhirnya. Aku tersenyum dan melontarkan pertanyaan yang telah kami tulis di kertas. Angela tampak menyiapkan ballpoint dan kertasnya. Dia memang bagian menulis, dan aku bagian berbicara.

“Nama Ibu siapa, kalau boleh tahu?” ibu itu menjawab sambil mengelap meja, “Nama ibu, ibu Sopiah.” Aku melirik Angela, ballpoint yang dipegangnya tampak menari-nari di atas kertas. Setelah dia selesai menuliskan nama sang ibu, aku melanjutkan pertanyaanku. “Ibu sudah berkeluarga?” Beliau mengangguk, “Sudah.” Itu bukan persis jawaban yang ku cari. “Anggota keluarga ibu ada berapa ya, kalau boleh tahu?” Ibu itu tampak bingung, dia pun menjawab, “Anggota keluarga ibu banyak, anak banyak, cucu juga banyak.” Aku menggarukkan kepala.

“Anak ibu berapa?” Aku bertanya lagi. “Anak ibu ada lima.” Berarti, anggota keluarganya tujuh orang, termasuk dirinya dan sang suami. Aku akhirnya menyampaikan intensi awalku menemui dia. “Ibu, kami diberi tugas untuk melakukan aksi sosial, bolekah kami membantu ibu menjaga warung.” Ibu Sopiah pun tampak bingung dan berteriak ke arah belakang. “Abah, ada yang mau bantuin!”

“Iya sini masuk!” Aku dan Angela pun masuk ke dalam warung. Seorang kakek tampak duduk di sebuah kursi, dengan wajan berisi minyak di depannya. Sepasang tongkat tampak menyender di dinding. “Darimana neng? Dari wisma?” tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Dia menarik tanganku, menyalami dan menepuk punggungku. Aku mengkerutkan alisku, dan berkedip beberapa kali karena bingung. “Kakek dulu di wisma, jadi satpam sejak wisma itu awal di bangun, tapi sejak tiga tahun yang lalu, kaki kakek sakit. Jadi kakek buka warung di sini.” Aku tertegun. Aku melirik Angela.

“Umi, kasih aja te gelas dua, sebagai bukti te mereka mengindahkan tugas.” Sang ibu mengeluarkan dua ember, dan dua gelas. Angelapun jongkok, dan mencuci kedua gelas tersebut. Aku melihat wajan yang berada di hadapan abah, lantas aku menawarkan diri untuk membantunya. “Abah, gimana aku aku the, bantuin abah bikin bakwan.” Aku menyesuaikan bahasaku dengan bahasanya, walau aku tidak terlalu jago berbahasa Sunda. Tapi pada akhirnya Abah tampak ragu, dan aku pun tidak memaksakan kehendakku. Namun, seseorang dari polsek datang dan meminta kami membuatkan mie. Aku dan Angela pun membantu memotong sayuran, memasukan mie kedalam wajan, dan memberikan Abah telur. Sesudah itu, kami mengantarkannya ke polsek bersama teman kami, Raynathan.

Setelah itu, kami kembali ke warung, mengucapkan terima kasih, dan melenggang pergi ke wisma. Sesampai di wisma, kami bertemu kak Bambang dan menceritakan pengalaman kami. Beliau menyatakan bahwa aksi sosial kami salah. Seharusnya kami melakukan aksi sosial bersama kelompok. Kamipun kembali, mencari kelompok, melaksanakan sisa dari probasi, dan kembali ke Wisma karena suster sudah mencari kami.

Gladi Rohani SMA Notre Dame 2019 – Arsip Sekolah Notre Dame

Sesampai di wisma, kami istirahat, makan dan diarahkan menuju lapangan di wisma kami. Dan kami main lilin air. Lilin air adalah sebuah permainan di mana kita harus menjaga lilin dari air yang disemprotkan oleh teman teman dan kakak pembina. Sayangnya, tidak berhasil, sehingga kami pun melanjutkan kegiatan outbond dengan games lainnya, yaitu games mengoper bola dengan kompak, dan games berbaris. Sayangnya, tiba tiba hujan dan berangin kencang. Tubuh kami yang sudah basah makin basah, dan angin kencang membuat badan kami menggigil.

Kami pun mandi, makan dan melanjutkan sesi. Sesi kali ini tentang kenyamanan kita di kelas, ketidaksukaan kami di kelas, dan apa yang membuat kami jenuh dan kesal. Kami dipersatukan dengan kelas masing masing. Kelasku adalah kelas percepatan 2 tahun, kelas terbaik buatku sepanjang masa. Kami semua solid, tiada yang membenci satu sama lain, semua saling mendukung. Di sesi itu, banyak yang menceritakan tentang bagaimana sulitnya mengikuti pelajaran, tentang keinginan mereka untuk keluar dan menyuruh kami untuk tidak sedih, dan bercanda tentang banyak hal. Hal ini membuatku menangis dan meringis dalam hati. Jika ada yang keluar atau dikeluarkan, entah lah. Kebersamaan ini mungkin tidak ada lagi. Mungkin kelas tidak sama lagi. Sesi itu kami pergunakan dengan baik untuk berbagi cerita dan pengalaman. Kami pun selesai pada jam 11 malam, dan kami pun ke kamar masing masing untuk istirahat.

***

Aku menghela nafas, hari ini hari terakhir gladi rohani, sebelum akhirnya kita melanjutkan rutinitas seperti biasa. Pagi ini diawali dengan meditasi, dan doa pagi. Setelah itu, kami sarapan dan ingin memulai sesi. Namun, sebelum sesi, kami melakukan permainan dulu karena kakak kakak pembina kami melihat kami yang kurang bersemangat. Permainan itu di beri nama senam trekjing. Sang pemimpin permainan bernanyi dan kitapun memperagakan lirik lagunya.

Setelah itu kami sesi, dan kemudian misa. Romo yang mempimpin misa kali ini masih terlihat muda, lebih muda dari pada Romo yang kulihat biasanya. Misa pun berjalan seperti biasanya, dan tiba di mana saatnya homili. Beliau menceritakan tentang remaja yang berada di gereja setan, selain itu aku tidak terlalu ingat. Beliau berpesan agar kami hati-hati agar tidak masuk gereja setan.

Misa pun berakhir, dan saatnya kami makan siang dan kemudian pulang. Sedih sekali, waktu berjalan lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku duduk disamping jendela bis, dan menyandarkan kepala. Aku pun menutup mataku, berusaha untuk tidur. Disinilah berakhirnya gladi rohani kali ini. Jujur, aku belajar banyak hal dari perjalanan kali ini. Semoga kami semua dapat menerapkannya di kehidupan sehari hari.

( Oleh: Felicia Natania – Siswi SMA Notre Dame 2019 )

Bagikan Halaman Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •