Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame

Tantangan terbesar pada abad mileneal ini adalah mendidik anak untuk berpikir kritis. Guru harus siap dalam mendidik anak untuk berpikir kritis. Terutama dalam hal pemikiran mendalam atas suatu persoalan. Berpikir kritis dilakukan dengan cara menguji setiap hal yang dihadapi (fakta, informasi) untuk dilihat kebenarannya. Anak harus dilatih berpikir kritis atas semua hal yang dihadapi dengan menguji semua informasi menggunakan nilai-nilai kekatolikan yang terjabar dalam vivi-misi sekolah sebelum akhirnya menarik kesimpulan dan mengambil keputusan, tidak sekedar mengikuti pendapat kebanyakan orang. Siap tidak siap guru mempersiapkan diri bagaimana memberi stimulus pada bidang studinya agar anak terangsang berpikir kritis karena rasa ingin tahunya. Mengapa demikian? Guru menempati posisi strategis karena berhadapan langsung dengan anak sekaligus menjadi filter bagi anak akan segala pengetahuan yang didapat dan permasalahan yang dihadapi. Guru memfasilitasi dengan model pembelajaran aktif learning supaya proses belajar mengajar di SMP Notre Dame melebihi tingkat hafalan, namun sampai pada tingkat ketrampilan bernalar yang lebih kompleks (memahami, analisis, sisntesis,aplikasi, problem solving, evaluasi). Kesimpulannya bagaimana guru mengajak anak untuk High Older Thinking.

Guru harus mampu berpikir kritis sebelum ia mengajarkan hal yang sama kepada anak didiknya. Beberapa hal yang harus dilakukan guru supaya anak menkadi pemikir kritis :

Guru dalam KBMnya harus interaktif dengan anak. Guru bisa menggunakan berbagai model pembelajaran aktif disesuaikan dengan lingkup bahan ajarnya. Hilangkan pembelajaran yang bersifat hapalan, atau materi oriented. Namun perlu anak diajak berpikir mengenai suatu konsep.

Biasakan guru mengajak anak berpikir tingkat tinggi ( HOTS ). Termasuk dalam evaluasinya guru harus membuat soal HOT, Karena HOTS melatih anak pada proses :

  • Mentransfer fakta dari satu konteks ke konteks lain
  • Memilih, memproses, dan menerapkan informasi
  • Melihat keterkaitan antara beberapa informasi yang berbeda
  • Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
  • Menguji informasi dan gagasan secara kritis

Di setiap akhir pembelajaran guru perlu mengajak anak merefleksi proses pembelajaran yang baru saja dilakukan. Refleksi bertujuan :

  • Membentuk hati yang peka dan peduli
  • Menemukan makna dan hubungan dari hal yang dipelajari dengan pelajaran lain
  • Membentuk sikap
  • Mengembangkan emosi, pengetahuan, kemampuan kerja, rasa sosial, spiritual, kemandirian, idealisme, semangat, dan kemandirian

 

Melalui program literasi atau bahkan dalam pembelajaran di kelas, anak dibiasakan menjadi pemikir kritis dengan cara berikut ini.

Pertama, banyak membaca. Anak yang banyak membaca pasti memiliki banyak pengetahuan, mulai membangun pola pikir yang berawal dari rasa ingin tahu. Karena rasa ingin tahu yang besar akan membawa anak ke jalan yang lebih luas dalam menghadapi segala masalah dalam hidup.

Kedua, jangan berhenti pada satu sumber. Karena pada dasarnya satu sumber mewakili satu pemikiran, dua buku dua pemikiran dan seterusnya.

Ketiga, tanamkan sikap skeptis. Pemikir skpetis adalah mereka yang selalu mempertanyakan ulang apa yang sudah ia dapatkan

Keempat, berani berbicara. Pemikir kristis harus memiliki kecakapan berbicara maupun menulis. Anak harus dilatih berbicara, adu argumentasi ataupun beropini mengenai sesuatu hal.

Bagikan Halaman Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •