Menyanyi adalah salah satu hobi saya semenjak masih kecil. Waktu masih SD di desa saya, lagu-lagu Jawa adalah lagu yang banyak diajarkan di sekolah, selain beberapa lagu nasional dalam bahasa Indonesia yang sederhana. Menyanyi bersama teman-teman maupun sendiri bagi saya pribadi adalah ekspresi kegembiraan hati, seolah tidak ada beban atau masalah yang dihadapi.
Keinginan saya menjadi seorang Katolikpun awalnya adalah karena ingin menyanyikan lagu Gereja. Pada waktu itu sekitar tahun 1973, saya melihat kakak saya yang beragama Katolik bersama umat Katolik di lingkungan mengadakan pertemuan di rumah kami. Mereka menyanyi sangat bagus. Kala itu saya hanya mengintip mereka lewat pintu rumah tengah. Sejak itu saya kepingin menyanyi seperti mereka, kakak saya bilang boleh saja tapi saya harus menjadi seorang Katolik. Hei siapa takut. Singkat cerita saya belajar agama Katolik hampir dua tahun, lalu dibaptis pada tahun 1975.

Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame

Sesudah menjadi Katolik, saya semakin senang dengan lagu-lagu Rohani dan lagu-lagu Gereja sampai akhirnya mengikuti panggilan Tuhan menjadi biarawati SND sejak tahun 1982. Tentu saja motivasi menjadi biarawati bukan lagi karena ingin menyanyikan lagu-lagu rohani Gereja.
Nah, pendidikan karakter pun bisa dari nyanyian. Dan saya mau bicara tentang lagu Mars Notre Dame yang saya gubah. Saya jadi bernostalgia bagaimana lagu itu tercipta. Kalau tidak salah ingat, saya membuat lagu itu di tahun 1990 an awal-awal saya berkarya melayani anak-anak TK Notre Dame Jakarta. Saya ingat lokasi Sekolah Notre Dame pada waktu itu masih di Jln. Kembang Abadi Utama Blok A Puri Indah, yang sekarang sudah menjadi Fave Hotel.

Inspirasinya dari masa lalu saya. Kala itu saya masih junior tahun ke-4, seorang suster muda pindahan tugas dari biara St Raphael, di dusun yang dingin dan tenang terletak di lereng gunung Lawu Jawa Tengah. Di sana kami memiliki sebuah Taman kanak-kanak yang dinamai TK Perwita Asih, nama yang unik tidak berbau agama apapun, nama itu dari bahasa Sansekerta yang artinya mengabdi dengan kasih. Sebuah taman Kanak kanak yang kecil dengan siswa siswi anak desa yang begitu sederhana, lugu, tetapi menyenangkan.

Teringat dengan jelas bagaimana anak-anak lereng gunung lawu itu, yang kalau diajari menyanyi mereka begitu gembira dan semangat menyanyikan lagu dengan teriak –teriak tanpa nada, sehingga lucu, misalnya diajari lagu Garuda Pancasila, mereka akan menyanyi dengan semangat agak ngeden-ngeden, lagunya satu not “ Do” semua. “Galuda pancasila, atulah pandukumu…patliot plokamasi sadia belkobal untukmu, pancasila dasal nagala…. aya adil makmul santosa plibang plibangsaku…….dst ( irama lagunya : dododo dodo dodo…… ) begitu sampai selesai kemudian diakhiri tepuk tangan meriah bangga. Gurunya (termasuk saya) juga senang dan bangga, melihat anak-anak sederhana ini semangat menyanyi, Anak-anak yang pakai sepatu saja terbalik, yang kanan dipakai dikiri dan mengancingkan bajunya jonjang karena tidak pas dengan lobangnya, di bawah hidung ada hiasan angka 11, tapi bisa nyanyi kencang- kencang. Saya senang, terharu, dan bangga. Setiap hari mencoba membetulkan cara mengucapkan syair lagu yang dinyanyikan. Hari-harian di sekolah bersama balita-balita ini saya sering membenahi sepatu dari beberapa anak yang terbalik dan baju yang jonjang serta membersihkan hiasan angka sebelas di bawah hidung yang dimiliki anak-anak dusun yang sangat lugu dan sederhana ini.
Dari inspirasi itu, dan karena saya setiap hari berkecimpung melayani anak- anak balita, apalagi saya mantan guru TK yang ada di dusun, lereng gunung lagi, saya membuat lirik lagu itu sederhana saja, supaya mudah diingat oleh bocah-bocah mungil yang belum banyak memiliki kosa kata.
Maka jadilah 2 bait lagu seperti di bawah ini :

* Kami putra dan putri siswa siswi Notre Dame
Tampak gagah dan rapi berseragam
Dengan riang gembira serta wajah berseri
Menuju sekolah tiap hari.

Refren -> : Notre Dame Notre Dame tempat sekolah kami
Notre Dame Notre Dame Melekat dalam hati : diulang Refr.

* Di sinilah tempatnya kami menuntut ilmu
Dibimbing para suster serta guru
Agar kami berkembang pandai serta berbudi
Dan masa depan kami mandiri

Refren ( seperti di atas )

Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame

Idealisme
Dalam hati kecil saat membuat lirik lagu tersebut, saya punya harapan agar anak-anak yang boleh kami didik, sungguh–sungguh menjadi orang yang berbudi, cerdas pikiran dan cerdas hati, serta berhasil dalam hidupnya, juga berharap agar anak-anak kota yang biasanya manja itu menjadi berani dan mandiri.
Ketika lagu itu saya nyanyikan di komunitas, tiba-tiba Sr. M. Yosefa SND yang kala itu sebagai ketua Yayasan St. Maria cabang Jakarta, minta pada saya supaya lagu itu diberikan juga pada SD yang kala itu baru memiliki SD kelas I yang jumlahnya 11 anak, dan kelas II, 13 anak. Dari sini cerita selanjutnya Mars Notre Dame resmi menjadi Lagu Mars untuk Sekolah Notre Dame sampai saat ini.

Setelah lokasi Sekolah Notre Dame pindah ke tempat yang sekarang ini ( Blok M. Puri Indah ), sekitar tahun 1991, Kelas-kelas mulai bertambah, bahkan sudah mencoba mebuka SMP tahun tahun 1991, Sr. M. Yosefa, Sr. M. Nicoline dan Sr. M Elisa menambah 2 bait untuk Mars Notre Dame, sehingga semua menjadi 4 bait. Isinya cukup bagus, hanya sayang kurang dilatih untuk bait selanjutnya sehingga yang terus bergema sampai saat ini hanya 2 bait awal saja. Saya tidak tahu mengapa tidak terus dilatihkan sampai semua bait ternyanyikan. Ada yang bilang kalau 4 bait dinyanyikan semua jadi terlalu panjang katanya. Ah masa sih, saya kira kalau benar-benar dilatihkan tidak akan terlalu panjang.
Ketika lagu tersebut ditetapkan untuk semua jenjang kami para suster menambah harapan agar siswa/siswi yang dipercayakan oleh orangtua mereka dalam pendidikan kami, mampu berkembang secara utuh, menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bagi Gereja, bagi bangsa dan Negara, juga mampu menghargai dan mengenang senantiasa almamaternya yang telah mereka akrabi kurang lebih 12 tahun apabila mereka sekolah di Notre Dame sejak TK kecil sampai lulus SMA, atau paling tidak mereka akrabi selama 3 atau 6 tahun.
Harapan yang terkandung dalam lagu Mars Notre Dame, bisa diwujudkan oleh sebagian besar mantan-mantan siswa/i Notre Dame, bahkan yang masih siswa/siswi pun banyak yang telah memiliki perubahan yang positif. Dari anak yang dulunya penakut ketika TK atau SD, namun dengan berjalannya waktu banyak dari mereka berubah secara positif menjadi lebih berani dan mengurangi kemanjaannya.

Semoga lagu Mars Notre Dame yang lahir dari kesederhanaan itu dapat memberi inspiasi bagi para guru dan sisw/siswi untuk membina diri menjadi manusia yang berkualitas, cerdas hati cerdas secara intelektual karena bimbingan dari para Suster, Guru dan karyawan Sekolah Notre Dame yang dengan sepenuh hati, iklas melayani, mendidik dan mendampingi putra- putri yang dipercayakan dalam Pendidikan Notre Dame.

(Sr. Maria Marsela, SND. Pencipta lagu Mars Notre Dame)

Bagikan Halaman Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •