Ketaatan diajarkan sejak dini, bukan saat anak-anak menjadi dewasa.

Ilustrasi: Arsip Sekolah Notre Dame

Di dalam buku Along the Virtuous Way, Ezo & Ezzo mencontohkan cerita berikut ini yang saya ubah dalam konteks Indonesia. Kevin, umur empat tahun, bangun tidur, ibunya sudah menyiapkan air hangat dan handuk. Ibu bertanya, “Mau mandi?” Kevin bilang, “Mau sarapan dulu, Mah.” Lalu ibunya mengambilkan nasi dan telor. Kevin berkata, “Aku mau tempe saja.” Ibu mengembalikan telur dan mengganti dengan tempe. Lalu, Ibu menuang susu, tapi Kevin berkata, “Aku mau air putih saja.” Si Ibu merasa tidak masalah karena susu itu bisa diberikan kepada kakaknya. Lalu setelah makan, Ibu menyiapkan handuk untuk mandi. Kevin berkata, “Ntar saja mah, aku mau main dulu,” kata Kevin sambil mengambil mobil-mobilannya.

Namun jawaban Kevin kali ini membuat Ibu marah sekali! Lalu, ia berteriak kepada Kevin, “Mandi sekarang!” lalu Ibu dengan omelan bahwa dari tadi Kevin tidak taat. Kevin tentu saja bingung. Tadi ia boleh menentukan makan dulu dan Ibu tidak apa-apa, menentukan tempe dan bukan telor juga tidak apa-apa, lalu minum air putih dan bukan susu, tidak masalah juga. Kevin heran mengapa tiba-tiba saja Ibunya marah kali ini.

Bapak/Ibu sekalian. Di usia awal, anak belum dapat menganalisis kapan dia harus taat dan kapan dia boleh mengungkapkan keinginannnya. Sebaiknya pada anak usia dini, orang tua menggunakan kalimat perintah sederhana dan pasti. Misalnya, “Kevin, Ibu mau kamu mandi sekarang,” dan bukan menanyakan kemauan anak. Di usia balita, kita mendidik anak kita menentukan batas-batas dan mengajarkan hal-hal yang menurut kita baik. Kemarahan Ibu di atas tidak masuk akal Kevin. Malahan, Ibu menanamkan kebingungan karena Kevin sama sekali tidak tahu kapan menuruti perintah orang tua dan kapan boleh bertindak seperti kemauannya.

Jadi, marilah kita memikirkan sekali lagi. Kita perlu melatih anak untuk taat pada orang tuanya. Berikan instruksi dengan nada datar tetapi jelas agar anak terbiasa menuruti keinginan baik kita. Jika hal itu terbiasa dilakukan, kita tidak perlu berteriak kepada anak kita.

 

Oleh: Sigit Setyawan, S.S., M.Pd. / Ketua Pelaksana Harian Sekolah Notre Dame

Bagikan Halaman Ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •